Cuaca ekstrem disertai hujan deras yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan menerapkan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi pelajar serta Work From Home (WFH) bagi para pekerja.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia. Di Kabupaten Bandung Barat, bencana longsor akibat hujan deras dilaporkan menelan korban jiwa sedikitnya 10 orang.
Selain memicu bencana alam, musim hujan juga meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama pada anak-anak. Berikut sejumlah penyakit yang kerap muncul saat musim penghujan beserta langkah pencegahannya.
1. Influenza

Mengutip Kementerian Kesehatan (Kemenkes), influenza merupakan penyakit saluran pernapasan menular yang disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya meliputi demam, badan pegal, lemas, bersin-bersin, serta nyeri otot dan sendi.
Virus influenza menyebar melalui cairan tubuh seperti ingus dan air liur, baik melalui udara maupun sentuhan pada benda yang terkontaminasi. Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga daya tahan tubuh melalui olahraga dan istirahat cukup, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, rajin mencuci tangan, serta menggunakan masker saat sakit.
2. Diare

Diare adalah gangguan pencernaan yang ditandai dengan buang air besar encer tiga kali atau lebih dalam sehari. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit, seperti Escherichia coli, Salmonella, dan Shigella.
Pencegahan diare dapat dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan makanan, serta membiasakan buang air besar di tempat yang layak.
3. Penyakit Kulit
Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV, menyebutkan bahwa kondisi lembap saat musim hujan meningkatkan risiko penyakit kulit, seperti kurap, panu, dan eksim.
Salah satu penyakit yang sering muncul adalah kandidosis kutis, infeksi jamur yang biasanya menyerang area lipatan tubuh atau sela-sela jari kaki, terutama pada orang dengan berat badan berlebih. Selain itu, panu akibat jamur Malassezia furfur juga kerap muncul akibat kelembapan tinggi dan kebiasaan mengenakan pakaian basah.
Untuk mencegah penyakit kulit, masyarakat disarankan menjaga kebersihan kulit, mengeringkan tubuh dengan baik setelah terkena air, serta menggunakan pelembap dan tabir surya sesuai kebutuhan.
4. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue merupakan penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti yang banyak berkembang biak di musim hujan. Gejala yang muncul antara lain demam tinggi, nyeri otot, dan gejala menyerupai flu. Jika tidak ditangani dengan baik, DBD dapat berakibat fatal.
Upaya pencegahan dilakukan melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas, serta melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
5. Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang menyebar melalui urine atau darah hewan terinfeksi, seperti tikus, sapi, anjing, dan babi. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar, terutama saat musim hujan dengan banyak genangan air.
Gejala leptospirosis biasanya muncul antara dua hari hingga empat minggu setelah infeksi, meliputi demam, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, mata merah, sakit perut, hingga muncul bintik merah pada kulit.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan air genangan, serta menggunakan alas kaki saat beraktivitas di area berisiko.
